Powered By Blogger

Jumat, 27 Juli 2012

HIKMAH DIBALIK MUSIBAH
( HUKUMAN, UJIAN , ATAUKAH PENGHAPUS DOSA )

Apabila kita berbicara tentang suatu musibah pasti tidak ada batasnya, karena begitu kompleks dan cara pandang manusia tentang kata musibah . mungkin saja ada orang yang akan berfikir bahwa musibah itu adalah merupakan bentuk hukuman yang Allah turunkan kepada manusia karena banyak dosa, atau mungkin juga ada orang yang mendefinisikan bahwa musibah itu adalah merupakan Ujian yang Allah berikan kepada manusia untuk mengukur tingkat kesabaran, atau bahkan ada orang yang akan menyatakan bahwa musibah itu adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah terhadap manusia sebagai bentuk mengampunan Allah atau sebagai penghapus dosa untuk menumbuhkan rasa syukur manusia dikala senang ataupun dikala kesususahan.
Untuk meminimalisir masalah tersebut diatas maka sekarang mari kita bahasa hikmah dibalik musibah secara detail dengan prolog dan pengertian sebagai berikut :

Hadirin kaum muslimin Rahimakumullah
Musibah bisa menimpa siapa saja, dimana saja, dan kapan saja, baik itu terhadap orang kaya ataupun orang miskin sekalipun, pejabat Negara atau rakyat, artis ibukota atau artis jalanan, guru atau murid, nenek atau cucu, paman atau keponakan, tante atau sepupu, mertua atau orangtua, bayi atau manula,semuanya bisa tertimpa musibah dirumah atau dikantor, ditempat tidur atau di jalan raya, diudara atau didarat, dipasar atau didapur, dikota atau didesamusibah juga ada. Siang ataupun malam hari, ketika terang ataupun gelapgulita, saat beribadah atau saat melakukan maksiat, saat menggali sumur atau waktu mendengkur, musibah bisa dating dengan tiba-tiba.
Dalam pandangan dan perasaan manusia, semua jenis musibah pasti merupakan sesuatu yang jelek, menyakitkan atau menyedihkan. Ddengan kata lain, secara manusiawi kita tentu tidak menginginkan musibah, apapun bentuknya, kapanpun dan dimanapun. Namun, apabila kita membaca beberapa keterangan ayat Al-Qur’an dan hadist nabi, akan kita dapati bahwa musibah yang dialami oleh manusia dalam pandangan allah ternyata memiliki makna. Paling tidak tiga makna bisa kita terjemahkan dari sebuah musibah. Pertama, sebagai hukuman allah atas pembangkangan yang dilakukan manusia terhadap aturan yang telah ditetapkan-Nya, atau merupakan sebuah hokum sebab akibat. Kedua, sebagai penghapus dosa. Artinya, diakhirat nanti ada dosa yang tidak diperhitungkan lagi karena hukumannya sudah ditunaikan oleh allah di dunia. Ketiga, sebagai ujian untuk kenaikan derajat manusia dimata Allah.
Hukuman
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Demikianlah salah satu hadis Nabi menjelaskan tentang manusia. Kita bisa berbuat salah apabila kita tidak tahu petunjuk atau ilmunya. Akan tetapi, perbuatan salah tidak selalu berkaitan dengan ketidaktahuan. Sering pula manusia berbuat salah padahal sudah tahu petunjuk atau ilmunya. Atau, bisa jadi bukiannya tidak tahu tetapi memang tidak mau tahu dengan petunjuk-petunjuk atau aturan-aturan yang sudah ada.
Allah telah memberikan petunjuk dan ilmu yang bisa digali oleh manusia didalam firman-firman-Nya yang juga didukung dengan hadis-hadis Nabi. Itu semua merupakan peraturan yang patutdilakukan agar manusia mencapai kebahagiaan dalam kehidupan, baik didunia maupun diakhirat. Ketika Allah membuat peraturan maka Allah juga membuat ‘hadia’ dan ‘hukuman’ bagi peraturan itu. dalam bahasa yang lebih tepat, itu disebut dengan konsekuensi logis atau ‘hukum alam’.
Jadi, ketika manusia ditimpa suatu malapetaka atau musibah, itu juga merupakan suatu konsekuensi logis atas apa yang telah dilakukannya. Musibah itu merupakan akibat dari sesuatu yang diperbuat atau diabaikan oleh manusia. Dalam salah satu ayat Al Quran Allah swt. Berfirman, “dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S. Asy-syuuaraa 42:30). Dalam ayat yang lain, “apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (Q.S. An-Nisa 4:79).
Kita sering mengaitkan malapetaka atau musibah yang terjadi dengan takdir Allah. Musibah memang sebuah takdir, tetapi bukan berarti tidak ada kaitannya sama sekali dengan amal perbuatan atau usaha manusia. Ustadz Quraish Shihab dalam buku Lentera Hati mengungkapkan bahwa adalah keliru apabila seseorang mengingat takdir ketika terjadi malapetaka yang menimpanya itu. lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa adalah benar kita tidak bisa terlepas dari takdir Tuhan. Tetapi takdir-Nya tidak hanya satu. Kita diberi kemampuan untuk memilih berbagai takdir Tuhan, berdasarkan hokum-hukum yang telah ditetapkan-Nya. Sehingga apabila seseorang tidak menghindar darinya pasti ia akan menerima akibatnya, dan itu aadalah takdir. Tetapi apabila ia menghindar dan luput dari marabahaya, ia pun adalah takdir. Bukankah Tuhan telah menganugerahkan manusia kemampuan untuk memilih?
Dengan melihat penjelasan tersebut maka dapat kita pahami bahwa malapetaka atau musibah yang menimpa manusia bisa jadi merupakan hukuman dari Allah atau konsekuensi logis atas kesalahan yang dilakukan manusia. Kesalahan itu bisa berupa kelalaian, kebodohan, atau pengingkaran kita terhadap hokum yang sudah ada. “dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.” (Q.S. Ar-Rum 30:36).
Didalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. Pernah bersabda, “akan datang suatu zaman atas manusia. Perut-perut mereka menjadi Tuhan-Tuhan mereka. Perempuan-perempuan menjadi kiblat mereka. Dinar-dinar menjadi agama mereka. Kehormatan mereka terletak pada kekayaan mereka. Ketika itu, tidak tersisa iman sedikitpun kecuali namanya saja. tidak tersisa islam sedikitpun kecuali upacara-upacara saja. Tidak tersisa Al-Qur’an sedikiktpun kecuali pelajarannya saja. Masjid-masjid mereka makmur dan damai. Akan tetapi hati mereka kosong dari petunjuk. Ulama-ulama mereka menjadi makhluk-makhluk Allah yang paling buruk dipermukaan bumi. Kalau terjadi zamanseperti itu, Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka berbagai bencana, kekejaman para penguasa, kekeringan dan kekejaman para pejabat serta para pengambil keputusan.” Maka takjublah para sahabat mendengarkan penjelasan Nabi ini. Mereka bertanya, “ya Rasulullah, apakah mereka menyembah berhala?” nabi menjawab, “ya, bagi mereka, setiap serpihan dan kepingan uang menjadi berhala.”
Ujian
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (Q.S. AlBaqarah 2:214)
Ayat diatas menjelaskan dengan jelas menerangkan bahwa manusia yang kelak akan mendapatkan kebahagiaan diakhirat dengan hadiah surge yang penuh kenikmatan, adalah mereka yang ketika didunia telah diuji oleh allah swt. Ujiannya berupa malapetaka, kesengsaraan, dan berbagai hal yang melemahkan keimanan seseorang sehingga ia pun sampai mempertanyakan tentang pertolongan Allah swt.
Tapi, apakah orang yang tidak diuji dengan malapetaka dan kesengsaraan lantas tidak akan mendapatkan kebahagiaan kelak diakhirat?Tidak demikian, sebab ujian atau cobaan itu tidak hanya dalam bentuk malapetaka dan kesengsaraan. Ujian dan cobaan bisa pula dalam bentuk kekayaan atau kepintaran. Allah swt berfirman, “Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (Q.S Az-Zumar 39:49)
Walhasil, tentunya kita semua harus waspada atas berbagai ujian dan cobaan yang ada didunia ini. Banyak orang yang berhasil menghadapi ujian malapetaka dan kesengsaraan, tetapi gagal menghadapi ujian berupa kesenangan dan kenikmatan. firmanNya, “dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, Maka ia banyak berdoa.” (Q.S Al-Fushilat 41:51)
Penghapus Dosa
Selain sebagai hukuman dan ujian, musibah yang menimpa manusia bisa juga sebagai suatu proses penghapusan dosa. Didalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Allah swt. Berfirman, “demi kejayaan dan keagungan-Ku, tidak akan aku matikan hamba-Ku yang Aku kehendaki kebaikan baginya, sehingga aku menghapuskan dosa-dosa yang pernah ia lakukan melalui rasa sakit dibadannya, kerugian pada hartanya, dan kematian anaknya. Maka apabila masih terdapat dosa padanya maka Aku perberat baginya saat sakaratul maut., sehingga ia menemui Aku seperti saat ia dilahirkan dari rahim ibunya (tidak mengemban satu dosapun). Dan demi kejayaan dan keagungan-Ku. Tidak akan aku mematikan hambaku yang aku tetapkan keburukan atasnya, sehingga aku menghapuskan perbuatan-perbuatan baiknya melalui kesehatan tubuhnya(tidak pernah sakit). Bertambah hartanya, dan bertambah anaknya; maka sekiranya masih ada kebaikan padanya, Aku ringankan baginya sakaratulmaut sehingga dia mengharap-ku tidak memiliki kebaikan apa pun.”
Selain hadis qudsi diatas, mari kita simak pula sebuah hadis lain. Nabi Muhammad Saw bersabda, “tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semacam tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu menggugurkan daun-daunnya.” (H.R. Muttafaqun ‘Alaih)
Kita sering menganggap musibah yang menimpa kita sebagai sesuatu yang buruk. Padahal bisa jadi ada hikmah yang sangat besar dibalik itu semua. Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Meraih Cinta Illahi mengungkapkan bahwa Allah swt. Memelihara manusia bukan saja dengan kegembiraan tetapi juga dengan kesedihan. Allah Swt. Mengurus kita tidak hanya dengan kenikmatan tetapi juga dengan penderitaan. Tujuannya adalah supaya kita bisa mencapai perkembangan yang baik. Orang-orang yang tidak pernah dipelihara dengan penderitaan biasanya tidak berkembang kearah kesempurnaan. Jalaluddin pun mengingatkan bahwa kebaikan Allah swt. Kepada kita jauh lebih besar daripada ujian-Nya dan kebaikan Allah swt, tidak pernah berhenti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar