Powered By Blogger

Jumat, 27 Juli 2012

BERITA BURUK MEDIS
“(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku, dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku, dan yang akan mematikan Aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan yang Amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat". (Q.S. Asy-Syuara 26: 78-82)
Seperti yang telah dengan jelas diungkapkan pada Q.S. Asy-Syu’ara diatas, dalam suatu upaya medis, hasil akhir terletak pada kehendak Allah swt. Allah mempunyai rahasia dan kehendak untuk menyembuhkan atau mematikan seorang manusia. Ini merupakan salah satu bukti Kemahabesaran Allah swt. Pencipta dan Penguasa semesta ini.
Jika demikian adanya, layakkah sebuah upaya pengobatan?
Dalam sebuah sekte agama Kristen ada sebuah ketentuan; para pengikut sekte ini dilarang berobat ke dokter, pengobatan hanya layak dilakukan oleh pendetanya sendiri dengan cara psikoreligioterapi, bahkan caranya pun ada yang lewat telepon. Jadi pendeta itu akan membacakan doa dan menyugesti pasien. Allah (melalui tangan pendeta), akan menyembuhkan. Ada juga sekte Kristen lain yang melarang jamaahnya untuk transfuse darah.
Dalam agama islam, hal semacam ini tentu tidak diperkenankan! Mengapa? Karena ada hadis yang berbunyi , “jika suatu urusan tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”
Pendeta bukan ahli medis,sehingga kemungkinan kesalahan pendiagnosian penyakit amatlah besar. Dalam ilmu kesehatan, ada beberapa pembagian kewenangan. Dokter mendiagnosis mencari penyebab penyakit dan member pengobatan, perawat merawat yang sakit, member pengobatan atas saran dokter, bidan menolong persalinan dengan pengawasan dokter, dan apoteker memberikan obat yang diminta dokter memalui pasien. Jadi, kewenangan member pengobatan pada diri dokter. Dokter berikhtiar untuk mengobati pasien dan meminta keridoan Allah swt. Agar ikhtiarnya dikabulkan, yaitu kesembuhan pasien.
Allah menciptakan manusia dengan karakter berbeda. Semua mempunyai kekhususan. Subhanallah. Penanda khusus itu disebut gen. gen merupakan bagian terkecil yang terletak didalam inti setiap sel tubuh. Terdiri atas untaian protein dan basa, suatu susunan kimia yang mengatur setiap proses yang terjadi untuk sel tersebut, saya pernah menyampaikan dalam edisi terdahulu mengenai seorang peneliti yang pernah mengotak-ngatik rantai protein yang disebut gen ini. Ditemukan bahwa didalam satu sel, kalau rantai protein ini diluruskan, panjangnya sekitar 2M. apabila dari seluruh sel dalam tubuh disatukan, panjangnya mencapai jarak bumi kebulan.
Jadi, akibat dari pengaturan Allah swt. Ini, setiap tubuh manusia berbeda. Sekarang, bagaimana ilmu kedokteran bisa mengetahui setiap karakteristik dan perbedaan dalam tubuh? Secara teoritis hal ini bisa dilakukan jika manusia berhasil membuat pemetaan dari semua (berjuta) jenis gen yang ada didalam tubuh. Contohnya pemenang nobel kedokteran tahun ini, mereka berhasil mengidentifikasi 10.000 gen yang mengatur atau berhubungan dengan indera penciuman. Dengan ilmu Allah ini, melalui tangan mereka akan berkembang ribuan atau jutaan wacana untuk penelitian lanjutan. Dapat dipastikan , semuanya akan berakhir pada kekaguman, akan kesempurnaan dan keagungan Allah swt. Jadi kalau saat ini kita merasa bahwa ilmu kedokteran tak mungkin bisa mebuat induividualisasi ilmu sehingga setiap manusia bisa diketahui karakteristiknya dengan pasti, tunggu dimasa depan. Insyaallah.
Berita buruk dalam kedokteran itu ada beberapa macam:
1. Berita kegagalan upaya pengobatan.
2. Berita ditemukannya proses keganasan atau penyakit lain yang belum juga ditemukan pengobatannya, seperti HIV/AIDS.
3. Berita terjadinya atau mungkin akanterjadinya suatu kecacatan.
4. Berita kemungkinan adanya kecacatan anak (misalnya lewat diagnosis USG)
5. Berita kematian atau menuju mati (tak ada harapan hidup).
Bagaimanakah cara kita menyikapi bila menerima berita buruk semacam ini?
Masalah ini menjadi sebuah topic khusus yang tidak pernah habis dibicarakan dalam forum kedokteran. Apakah dokter sebaiknya diam saja? Member tahu langsung saat itu? memberi tahu sesaat kemudian ? tidak memberi tahu pasien. Tetapi memberi tahu keluarga terdekat?
Dokter dikenai aturan sumpah dokter, yaitu kewajiban merahasiakan (terutama yang berhubungan dengan aib) pasiennya. Tujuannya agar pasien berani mengemukakan permasalahan yang mungkin berhubungan dengan penyakit dan kesembuhannya. Penulis pernah membuat penelitian mengenai hal ini sekitar tahun 1987. Data yang didapat, dari sekitar 30 calon ibu yang pernah di USG dan di diagnosis akan melahirkan bayi yang cacat, sebagian mengakui bahwa dokter mereka menginformasikan berita ini secara langsung, hal ini menyebabkan para calon ibu menjadi stress padahal mereka masih harus melanjutkan kehamilannya. Sebagian lagi mengaku bahwa mereka baru mengetahui kecacatan bayinya begitu bayi mereka lahir. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mengetahui kecacatan bayi ketika dilahirkan, lebih baik daripada mengetahuinya ketika masih didalam kandungan. Reaksi setiap individu memang akan berbeda karena Allah mengatur tubuh manusia secara berbeda. Ada yang berterimakasih telah dibantu, ada yang menangis tak menerima rahasia allah swt, ada yang sock, diam saja, ada yang marah, bahkan ada yang melakukan tindakan fisik kepada dokter, atau bahkan menuntut dokternya didepan hukum.
Jadi kalau terjadi hal-hal tidak diinginkan, sebaiknya kita merujuk pada Q.S. Asy-Syuara ayat 78-82 diatas dan disertai dengan hadis, “… beribadahlahlah seperti kau akan mati besok.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar